Kamis, 12 Desember 2019






Cilegon - Ada yang tak biasa di Jalan Lingkar Selatan (JLS), Kota Cilegon, Banten. Lokasi yang dulunya tambang pasir itu disulap bak istana di kisah dongeng.

Terletak di perbatasan Serang-Cilegon, tepatnya di Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, bekas galian C kini didandani dengan arsitektur khas bangunan kerajaan. Padahal, sang pemilik lahan awalnya tak menyadari gumpalan tanah bekas galian itu berbentuk seperti istana.

Oleh pemilik lahan, Bachtera Surya, tanah dengan tinggi sekitar 50 meter tersebut dulunya merupakan korban keganasan alat berat. Namun, saat diperhatikan lahan itu mirip sebuah bangunan.

Langsung jadi ajang selfie (M Iqbal/detikTravel)Langsung jadi ajang selfie (M Iqbal/detikTravel)
Alhasil, si empunya tanah berniat menjadikan lahan itu sebagai tempat rekreasi baru bagi warga Cilegon dan sekitarnya. Bachtera awalnya tak berniat menjadikan lahan seluas 20 hektar itu sebagai tempat rekreasi.

"Kalau konsepnya ya seperti alami saja begitu, jalan saja, karena kita mengerjakannya sambil berjalan," kata Bachtera pada detikTravel, Kamis lalu (22/11/2018).

Bangunan dasar mirip istana kemudian ia bangun perlahan, dipercantik layaknya istana sungguhan. Konsepnya pun tanpa perencanaan layaknya sebuah bangunan megah yang mesti dikonsep baru kemudian dibangun.

Seperti di istana sungguhan (M Iqbal/detikTravel)Seperti di istana sungguhan (M Iqbal/detikTravel)
Semua berjalan begitu saja, kata Bachtera, sesekali ia naik ke atas untuk melihat keseluruhan bangunan. Dengan begitu, ia mendapat inspirasi.

"Nggak ada perencanaan apa-apa, seperti kolam renang, kalau malam saya naik ke atas, tangan saja main, saya panggil tukangnya ini kayak begini, ya jadinya seperti ini. Nggak ada konsultan, sendiri aja," tuturnya.

Selain istana, beberapa tempat juga akan dibangun seperti kolam renang, taman burung, taman buah, dan taman bunga. Tak ketinggalan wisata kuliner juga akan melengkapi tempat wisata yang oleh si empunya dinamakan Istana Taman Cadas.

"Rencananya ada 3 bukit untuk permainan juga seperti flying fox. Untuk kempingnya untuk familiy gathering," ucapnya. (rdy/fay)

Berwisata dan Belajar Beternak di Vila Ternak Cikeray, Cilegon

Senin, 17 Des 2018 18:06 WIB













Cilegon - Kebanyakan orang mungkin mengenal Kota Cilegon sebagai daerah di Banten dengan kawasan industri. Hampir di semua wilayah di Cilegon ditumbuhi industri, mulai dari industri pengolahan baja dan kimia. Namun jangan salah, di perbatasan antara Kabupaten Serang dan Kota Cilegon ada tempat wisata.

Vila Ternak Cikeray, demikian nama yang disandang tempat wisata yang menghadirkan edukasi pertanian dan peternakan bagi para pengunjung. Terletak di Kelurahan Cikeray, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, Banten. Waktu tempuh hanya sekitar 25 menit dari pusat Kota Cilegon.

Vila Ternak Cikeray berdiri di kawasan perbukitan di wilayah Cilegon. Tempatnya yang asri sedikitnya dapat menghilangkan penat di tempat wisata yang menghadirkan edukasi bagaimana cara beternak dan bertani.

"Kita ingin menunjukkan bahwa ternak itu bisa bersih, bisa menjanjikan, ternak itu bisa rapih,jadi ini juga sebagai edukasi anak-anak kita bahwa peternak itu bukan pekerjaan yang diremehkan," ungkap pemilik Vila Ternak Cikeray, Hari Bowo saat ditemui detikTravel, Rabu (12/4/2017).

Pria lulusan ITB itu mengungkapkan, awalnya ia tidak terpikir Vila Ternak Cikeray bisa diterima di kalangan masyarakat Cilegon. Bowo awalnya hanya ingin memindahkan tempat usaha peternakannya yang dulu ke tempat yang sekarang menjadi kawasan agrosiwata. Usahanya dulu hanya fokus pada penggemukan sapi qurban dan pakan ternak.

Anak-anak yang memberi makan sapi (Muhammad Iqbal/detikTravel)Anak-anak yang memberi makan sapi (Muhammad Iqbal/detikTravel)
Saya mulai usaha dari 2010-2016 kita fokus di penggemukan sapi qurban, kita juga ada pakan ternak mengelola sendiri, kita juga ada aqiqah. Cuma dari 2010-2016 itu kita masih berwirausaha di lahan sewa, mulai berpikir di 2017 ini.

"Kebetulan saya punya tabungan tanah (lokasinya) jauh di Cikerai ini. Saya mulai memberanikan diri, kita pindah tempat karena di sana tanah sewa dan pindah ke sini awal tahun 2017," terangnya.

Setelah berpindah tempat, Bowo kemudian terinspirasi dari daerah lain seperti Bandung dan Bogor yang mempunyai kawasan agrowisata berbasis pertanian dan peternakan. Dari sana, ia memberanikan diri untuk membuat terobosan yang yang dapat dijadikan tempat wisata sekaligus dapat mengedukasi anak-anak di wilayah Cilegon dan Banten.

"Awalnya cuma mau pindah kandang, lalu ternyata ada inspirasi lagi, kalau kita jalan ke Bandung itu kan ada Laktasi Farm, Farm House, ketikadi bogor ada Sentul Fresh, kalau di Malang ada Kampung Sapi Malang, Ecopark. Bekasi juga punya kandang. Nah Cilegon ini belum punya," tuturnya.

"Ya, moles-moles dikit kandang, ternyata laku. Anak-anak sekolah ada kunjungan, ternyata di kurikulum TK itu ada pengenalan hewan,maka kita poles sedikit, maka jadilah edukasi ternak," imbuhnya lagi.

Dalam sebulan, tingkat kunjungan di Vila Ternak Cikeray mencapai 1.000-1.500 pengunjung. Jumlahnya terdiri dari anak-anak sekolah hingga orangtua yang membawa keluarganya.

Selain menghadirkan beberapa hewan ternak dan alam yang asri. Di tempat ini, para pengunjung juga dapat beristirahat di saung yang dijadikan sebagai tempat kuliner.

"Pada saat edukasi ternak kan ada orangtua, butuh makan,butuh minum, akhirnya dibikin villa resto ini, maka akhirnya kita ada kantin, ada agrowisata di bawahnya. Ke depan semoga kita terus memperbaiki, karena awalnya kita hanya penggemukan sapi," paparnya.

Anak-anak yang sedang bertaniAnak-anak yang sedang bertani Foto: (Muhammad Iqbal/detikTravel)
Bowo mengungkapkan, kehadiran agrowisata di Cilegon merupakan langkah awal untuk mengenalkan 'Kota Baja' bukan saja sebagai kota yang dipenuhi industri.

Selain itu, ia ingin menghadirkan persepsi bahwa perternakan tidak selamanya dipenuhi kotoran ternak. Namun juga bisa bersih dan menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi.

"Saya ingin menghadirkan itu, karena kita levelnya bukan hanya edukasi anak-anak TK, tapi SMP ada, bahkan kemarin dari mahasiswa Untirta, sehingga kita kasih pengetahuan kepada mereka bahwa peternakan itu sesuatu yang menjanjikan kalau dikelola dengan baik, kita buktikan peternakan bisa buat edukasi, bisa buat wisata dan bisa buat kuliner," papar Bowo.

Memilih nama Vila Ternak Cikeray, menurutnya ada kriteria khusus yang ingin pria 30 tahun itu sampaikan. Selain mengangkat nama wilayah Kelurahan Cikeray, ia juga ingin memberdayakan masyarakat sekitar dengan menjadikannya sebagai pegawai.

"Kalau Cikeray sudah otomatis kita ingin mengangkat pemberdayaan ekonomi masyarakat Cikeray, jadi itu sudah basis visi kita. Kita nggak banyak ambil karyawan dari luar, kita berdayakan karyawan semua dari masyarakat Cikeray," katanya.

Ia menyatakan hampir semua karyawannya berasal dari daerah tersebut. Kecuali tenaga ahli seperti pekerja bangunan, mandor itu diambil dari orang-orang yang percaya.

"Hampir semua karyawan dari kelurahan Cikeray, cuma ada beberapa tim ahli, orang-orang (pekerja) kayu, orang-orang sipil, mandor-mandornya mungkin dari orang-orang saya. Jadi pekerja-pekerja bawahannya kita dari orang-orang Cikeray," ungkapnya.

Kepada pemerintah, ia berharap Kelurahan Cikeray dapat dijadikan satu-satunya wilayah yang tidak ditumbuhi industri. Meski tanah di wilayah Cikeray sudah bukan lagi dimiliki oleh pribumi Cikeray namun sudah menjadi milik orang-orang luar Cilegon.

Meski Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cilegon ditujukan sebagai kawasan industri, setidaknya, harap Bowo, ada satu kawasan di mana di sana terdapat tempat yang setidaknya mampu menghilangkan penat bagi warga Cilegon.

"Karena Cilegon itu terlalu mainstream dengan kawasan industri, mereka penat sebenarnya, mereka butuh tempat refreshing, maka saya mengambil Cilegon karena branding kawasan industri itu saya ingin bikin beda. Ketika Cilegon nuansanya kontraktor, baja, alat berat, alat-alat teknik. Maka saya coba bikin yang anti mainstream yaitu vila ternak di Cilegon," Tutup Bowo. (rdy/rdy)
Sumber: Detik Travel

Tahu enggak Banten Punya Tempat Wisata secantik ini..

Foto: (Bahtiar/detikTravel)Foto: (Bahtiar/detikTravel)
Pandeglang - Ada yang spesial di Pandeglang, Banten. Di hutan rayanya ada air terjun Curug Putri yang dikenal dengan Green Canyon dari Banten. Seperti apa ya?

Pandeglang rupanya tidak hanya menawarkan wisata laut di sekitaran Selat Sunda. Di sana ada hutan raya yang dikelola Perhutani dan Balai Taman Hutan Raya (Tahura) dan memiliki air terjun Curug Putri yang biasa disebut Little Green Canyon dari Banten.

Taman hutan raya sudah ada dari 2012, dan pembentukan balai pengelola baru diresmikan pada 2014. Dengan luas kira-kira 30 ribu hektar, hutan yang ada di Kecamatan Carita, Pandeglang ini rupanya memiliki objek alam yang indah. Ada tiga air terjun yaitu Curug Gendang, Cadas Ngampar dan Curug Putri yang bisa jadi tempat alternatif liburan selain pantai.

Air yang jernih dengan dinding yang basah menghasilkan foto yang indah (Bahtiar/detikTravel)Air yang jernih dengan dinding yang basah menghasilkan foto yang indah (Bahtiar/detikTravel)


Curug Putri atau yang dikenal warga Banten sebagai Little Green Canyon inilah tempat yang sekarang ramai dikunjungi, khususnya di akhir pekan. Sebenarnya curug ini hanya setinggi 3 meter, namun ada sisi lain yang membuat curug ini diminati.

Pengelaman menyusuri pinggiran tebing inilah yang menjadi daya tarik utama wisatatawan. Apalagi, di tengahnya mengalir air yang tampak hijau dan jernih. Panjang aliran sampai ke Curug Putri kira-kira 50 meter dengan tebing yang meliuk dan berkelok-kelok.

Air yang mengalir pun tidak terlalu dalam. Yang paling dalam hanya sepinggang orang dewasa. Sepanjang sisi tebih-tebing ini juga sangat indah untuk dijadikan tempat favorit untuk berfoto. Sensasi air jernih dan dinding yang basah menjadikan tempat tersebut indah ketika diambil gambar.

Salah satu pegawai pegawai di Balai Tahura, Yadi Rohadi mengatakan, sebelum dijadikan tempat wisata, Curug Putri dikenal sebagai tempat sakral. Namun, begitu ditemukan oleh orang Perhutani, curug ini ternyata memiliki lukisan alam yang indah dan akhirnya dijadikan lokasi wisata baru.

Aliran air yang tenang dan dangkal, sehingga aman untuk berenang (Bahtiar/detikTravel)Aliran air yang tenang dan dangkal, sehingga aman untuk berenang (Bahtiar/detikTravel)


"Ditemukan sudah lama, baru ramai semenjak didokumentasikan. Tadinya tempat sakral jarang dikunjungi masyarakat," katanya saat berbincang dengan detikTravel, Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (8/9/2017) kemarin.

Sayangnya, objek wisata Little Green Canyon Curug Putri ini belum dikelola secara memadai. Belum ada badan yang ditunjuk secara khusus untuk mengelola kawasan wisata di Tahura ini.

Tapi jangan khawatir, bila traveler butuh pendamping atau guide, nantinya akan ada warga sekitar yang akan menawarkan diri. Serta juga ada penyewaan pelampung dan warung-warung yang bisa menjadi tempat singgah atau istirahat setelah lelah bermain di curug.

Bisa dibilang, tempat ini mirip-mirip Cukang Taneuh yang berada di Pangandaran. Setuju?

(bri/aff)
Sumber: detiktravel

Pemandian Air Panas Cisolong

February, 24 2017

Pandeglang – Banten, selain beberapa tempat wisata seperti Air Terjun Curug Putri dan Sungai Ciberang. Pandeglang juga memiliki pemandian air panas alami yang berasal dari Gunung Karang. Nama pemandian ini adalah Pemandian Air Panas Cisolong. Pemandian ini banyak dikunjungi para wisatawan khususnya ketika hari libur. Lokasi Pemandian ini terletak di kampung Cisolong, Desa Sukamanah, Kecamatan Kadu Hejo, Pandeglang – Banten. Jika kita ingin mengunjungi pemandian ini tidaklah sulit. Karena letaknya tidak jauh dari kota Pandeglang sekitar 10 KM. Jika dari jalan raya Pandeglang – Labuan sekitar 5 KM.
Selain untuk rekreasi, pemandian air panas ini juga dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti penyakit tulang, penyakit kulit, dan juga penyakit-penyakit lainnya. Tidak heran jika warga Pandeglang banyak yang menjadikan tempat wisata ini sebagai tujuan ketika waktu liburan.
cisolong pandeglang 
Asiknya berendam air panas sambil bercanda girau dengan keluarga pastinya menjadi kegembiraan tersendiri. Di pemandian air panas Cisolong juga terdapat tempat permainan anak. Sehingga bagi para wisatawan yang datang bersama anaknya tidak perlu khawatir. Selain itu, pemandian ini juga memiliki kolam yang luas. Tapi sayangnya, ketika tim Gudang Wisata terakhir kesana. Pemandian ini belum dilengkapi dengan kama bilas dengan air dingin. Jadi yang tersedia hanya air panas saja.
Tapi itu tidak menutupi kegembiraan yang terpancar dari para wisatawan ketika mengunjungi obyek wisata yang satu ini. Jadi tidak ada salahnya jika kalian sesekali datang untuk berendam dan mengunjungi tempat wisata di Banten ini. Selamat berwisata,

Sumber: www.gudangwisata.com

Sejarah Pelabuhan Merak, Cilegon

January, 13 2016

Kapal “Taliwang” yg tercatat dalam rintisan sejarah RI, sebagai alat perhubungan pertama menghubungkan Merak dan Panjang, 1952.

Pelabuhan Merak dibangun sejak 1912 oleh Hindia Belanda melalui sebuah perusahaan pengelolaan kereta api (Staatsspoorwegen), setahun sebelum Pelabuhan Kamal dibangun 1913. Masa ini Pelabuhan Merak digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pendukung jalur kereta api Tanah Abang (Jakarta) dengan Merak di Banten. Sampai pada masa Pasca Kemerdekaan, ketika nasionalisasi perusahaan asing digulirkan, pengelolaan Pelabuhan Merak diambil alih oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1959.
Menurut sebuah penelitian, dijadikannya Merak sebagai lokasi pelabuhan, tidak terlepas dari dari beberapa pertimbangan; Pertama, posisi Merak waktu itu jika dilihat dari ketersediaan sarana transportasi sangat berdekatan dengan Pulau Sumatera dibandingkan dengan daerah lainnya di pantai Utara di Pulau Jawa yaitu sejauh 105.79 Km dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Panjang. Kedua, karena jarak yang dekat itulah maka otomatis jarak tempuh menjadi semakin dekat. Pemerintah Hindia Belanda memandang hal ini sebagai keuntungan dalam ekonomi maupun politik, misalnya untuk meredam jika ada pemberontakan atau bentuk perlawanan lainnya;
Ketiga, keadaan geografis di Merak sangat memungkinkan untuk menjadi sebuah pelabuhan sebab secara alami didukung oleh palung laut serta adanya pulau-pulau yang dapat menahan hempasan ombak dari Samudera Hindia yang masuk ke Selat Sunda;
Keempat, secara politis lainnya Merak dapat menjadi tempat pengalihan terhadap aktivitas masyarakat pribumi agar tidak menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok;
Kelima, karena posisinya yang strategis maka Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Panjang sekaligus merupakan tempat untuk memantau dan mangawasi aktivitas pelayaran yang melintas di Selat Sunda terutama kapal-kapal dagang yang merupakan saingan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini mengindikasikan arti penting jalur ini.

*Keterangan Foto: Kapal “Taliwang” yg tercatat dalam rintisan sejarah RI, sebagai alat perhubungan pertama menghubungkan Merak dan Panjang, 1952.

Sumber: https://beritacilegon.wordpress.com

Sejarah Singkat Terbentuknya Kota Cilegon, Banten

Desember, 17 2015



Sejarah kota Cilegon tidak dipisahkan dari sejarah Banten pada umumnya, karena kota Cilegon merupakan bagian dari wilayah kesultanan Banten. Dalam uraian ini menerangkan sejarah singkat terbentuknya kota Cilegon.
Cilegon pada Masa Sultan Ageng Tirtayasa (Tahun 1651-1672)
Pada Tahun 1651 Cilegon merupakan kampung kecil dibawah kekuasaan Kerajaan Banten pada masa Kerajaan Sultan Ageng Tirtayasa (Th. 1651-1672).
Pada masa itu wilayah Cilegon masih berupa tanah rawa yang belum banyak didiami orang. Namun sejak masa keemasan Kerajaan Banten dibawah Sultan Ageng Tirtayasa dilakukan pembukaan daerah di Serang dan Cilegon yang dijadikan persawahan. Sejak saat itu banyak pendatang yang menetap di Cilegon sehingga masyarakat Cilegon sudah heterogen.
Cilegon pada Masa Pembentukan Districh Cilegon (Kewedanaan Cilegon)
Sejak dibentuknya Districh Cilegon Tahun 1816, perkembangan Cilegon sangat pesat sehingga yang semula merupakan kampung kecil menjadi Kewedanaan. Kantor Districh Cilegon (Kewedanaan Cilegon) masih ada dan berdiri dengan kokoh sampai sekarang.
Cilegon pada Masa Pemberontakan Geger Cilegon
Pada Tanggal 9 Juli 1888 terjadi puncak perlawanan rakyat Cilegon kepada kolonial Belanda yang dipimpin oleh KH. Wasid yang dikenal dengan pemberontakan Geger Cilegon. Pemberontakan Geger Cilegon mengilhami perjuangan rakyat untuk membebaskan dari penindasan penjajah Belanda dan melepaskan diri dari kelaparan akibat tanam paksa pada masa itu.
Mesjid Agung Kota Cilegon
Cilegon pada Masa Tahun 1924
Pada Tahun 1924, di Kewedanaan Cilegon talah ada perguruan pendidikan yang berbasis Islam yang menonjol yaitu Perguruan Al-Khaeriyah dan Madrasah Al-Jauharotunnakiyah Cibeber.
Perguruan Al-Khaeriyah dan Al-Jauharotunnakiyah Cibeber berkembang dengan pesat dan melahirkan tokoh-tokoh pendidikan yang berbasis Islam di Cilegon. Sampai dengan saat ini Perguruan Al Khaeriyah dan Madrasah Al-Jauharotunnakiyah Cibeber masih eksis yang berlokasi di Desa Citangkil dan Desa Cibeber.
Cilegon pada Masa Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945
Seperti rakyat Indonesia lain, rakyat Cilegon pada masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia telah menunjukkan semangat juangnya. Hal ini terlepas diilhami semangat juang KH. Wasid pada masa pemberontakan Geger Cilegon.
Jiwa patriotisme rakyat Cilegon dan Banten pada umumnya di zaman revolusi fisik mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 telah ditunjukkan terkenal dengan Tentara Banten.
Cilegon Memasuki Era Tahun 1962
Sejak hadirnya Pabrik Baja TRIKORA pada Tahun 1962 di Cilegon merupakan babak baru bagi era industri di wilayah Cilegon. Perkembangan yang cepat industri baja TRIKORA tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 pada tanggal 31 Agustus 1970 berubah menjadi Pabrik Baja PT. Krakatau Steel Cilegon berikut anak perusahaannya.
Perkembangan industri yang pesat di Cilegon berdampak pula terhadap sektor lainnya seperti perdagangan, jasa dan jumlah penduduk yang terus meningkat. Mata pencaharian penduduk Cilegon yang semula sebagian besar adalah petani berubah menjadi buruh, pedagang dan lain sebagainya.
Kota Cilegon yang merupakan kota sedang yang memiliki potensi kota besar dengan segala fasilitas sarana dan prasarana perhubungan laut antara lain adanya pelabuhan penyeberangan (Ferry), Pelabuhan Umum, Pelabuhan Khusus.
Perubahan Kewedanaan Cilegon menjadi Kota Administratif Cilegon Tahun 1987
Kewedanaan Cilegon wilayahnya meliputi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Cilegon, Kecamatan Bojonegara dan Kecamatan Pulomerak.
Dengan perkembangan pembangunan yang sangat cepat terutama dengan adanya sentra industri baja PT. Krakatau Steel beserta seluruh anak perusahaannya diikuti hadirnya pabrik-pabrik seperti PLTU Suralaya, PT. Chandra Asri dan lain-lain telah mempengaruhi kondisi budaya dan penggunaan lahan dari daerah persawahan dan peladangan menjadi daerah industri, perdagangan, jasa dan perumahan serta pariwisata. Sejalan dengan pertumbuhan Kota Cilegon yang cepat itu, maka dibutuhkan pelayanan umum yang lebih cepat, terarah dan sesuai dengan tuntutan kehidupan masyarakat kota.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1986 tanggal 17 September 1986 Kewedanaan Cilegon menjadi Kota Administratif Cilegon dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 Juli 1987, meliputi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Cilegon, Pulomerak, dan Ciwandan serta dirangkaikan dengan pelantikan Walikotatif oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1992 pada tanggal 11 Januari 1992 Kecamatan Cilegon dimekarkan menjadi Kecamatan Cilegon dan Cibeber. Sehingga Kota Administratif Cilegon meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu Cilegon, Cibeber, Pulomerak dan Ciwandan.
Landmark Kota Cilegon
Cilegon Menjadi Kotamadya Tahun 1999
Kota Administratif Cilegon yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Serang dalam perkembangannya tumbuh sebagai kota industri bagi wilayah barat bagian Jawa Barat. Di Kota Cilegon saat ini terdapat industri berat dan menengah dalam kapasitas regional dan nasional. Kota Cilegon juga merupakan jalur lalu lintas penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera dengan pelabuhan penyeberangan Merak. Kesemuanya ini menjadikan Kota Cilegon fungsinya semakin berkembang, disamping sebagai kota industri juga sebagai kota transito, perdagangan dan jasa.
Melihat kedudukan Kota Cilegon sangat strategis ditinjau dari segi politik, sosial budaya serta pertahanan keamanan, maka untuk lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, Kota Administratif Cilegon dibentuk menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1999 (Lembaran Negara 3828) tanggal 20 April 1999 yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid pada tanggal 27 April 1999 dan dirangkaikan dengan pengangkatan penjabat Walikotamadya Daerah Tingkat II Cilegon yakni H. Tb. Riva’i Halir.
Menjadi Kota Cilegon
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839), maka penyebutan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon berubah menjadi Kota Cilegon.
Pada tanggal 4 September 1999 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cilegon diresmikan, yang keanggotaanya berdasarkan hasil Pemilihan Umum Tahun 1999 , dengan Ketua DPRD Kota Cilegon H. Zaidan Riva’i.
Pada tanggal 28 Februari 2000 dilakukan pemilihan Walikota definitif oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Cilegon secara demokrasi dan terpilih menjadi Walikota pertama Kota Cilegon adalah H. Tb. Aat Syafa’at dengan didampingi oleh Wakil Walikota Cilegon yaitu H. Djoko Munandar. Atas nama Menteri Dalam Negeri, maka Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana melantik secara resmi Walikota Cilegon pada tanggal 7 April 2000.
Dalam perjalanannya, Wakil Walikota Cilegon, Dr. Djoko Munandar, M.Eng mencalonkan diri menjadi Gubernur Banten, dan terpilih menjadi Gubernur Banten. Dengan demikian, jabatan Wakil Walikota Cilegon menjadi kosong.
Peluang yang diberikan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah semakin memberikan keleluasaan bagi Kota Cilegon untuk mewujudkan cita-cita masyarakat.
Pada tanggal 5 Juni 2005, masyarakat Kota Cilegon menggelar pesta demokrasi untuk memilih secara langsung Walikota dan Wakil Walikota. Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah berjalan dengan aman, lancar dan terkendali. Pada tanggal 10 Juni 2005, KPUD Kota Cilegon menetapkan pasangan H. Tb. Aat Syafa’at, S.Sos, M.Si dan Drs. H. Rusli Ridwan, M.Si sebagai Walikota dan Wakil Walikota Cilegon periode 2005 – 2010. Pada tanggal 20 Juli 2005, pasangan H. Tb. Aat Syafa’at, S.Sos, M.Si dan Drs. H. Rusli Ridwan, M.Si dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Cilegon oleh Gubernur Banten Dr. H. Djoko Munandar, M.Eng atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Sumber: http://suarabanten.com

Cagar Alam Rawa Danau Padarincang

May, 08 2013

Rawa Danau adalah salah satu tempat wisata di Provinsi Banten. Keindahannya akan memikat mata wisatawan yang mengunjungi tempat ini. Banyak sekali touring atau kelompok sepeda yang mendatangi tempat ini. Selain karena keindahan alamnya, tempat ini juga termasuk tempat wisata yang unik karena terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi banyak pepohonan. Cagar Alam Rawa Danau mempunyai kawasan konservasi endemis seluas 2.500 ha yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon, dalam bentuk rawa pegunungan satu-satunya yang ada dan masih tersisa di Pulau Jawa.
Pulau ini menjadi tempat bersarang bagi aneka jenis binatang reptil, seperti ular dan buaya. Tidak kurang dari 250 jenis burung bermukim di kawasan ini. Wisatawan dapat menikmati keindahan cagar alam ini dari areal perbukitan di Kampung Panenjoan, Desa Luwuk, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang.
Cagar Alam Rawa Danau
Wisatawan dapat mencapai lokasi ini melalui tiga jalur, yaitu; Jakarta-Cilegon-Anyer-Rawa Danau, Jakarta-Serang-Padarincang-Rawa Danau, dan Jakarta-Serang-Anyer-Cinangka-Padarincang-Rawa Danau.
(No) flashback
Kawasan hutan Rawa Danau ditetapkan sebagai Cagar Alam (Natuurmonument) berdasarkan GB tanggal 16 November 1921 No. 60 Stbl. 683. dan diperkuat dengan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Perda Kabupaten Serang No. 2 Tahun 1994 tentang Pola Dasar Kabupaten Serang yang menetapkan Rawa Danau sebagai Cagar Alam. Secara administrasi pemerintahan Cagar Alam Rawa Danau terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Padarincang, Kecamatan Pabuaran, dan Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Sedangkan secara geografis terletak pada 6°8’ - 6°11’ LS dan 105°56’ - 106°04’ BT.
Topografi di dalam kawasan umunya relatif datar dan hanya di bagian utara terdapat bukit kecil, yaitu Gunung Jamungkal seluas ±8 ha dengan ketinggian 150 m di atas permukaan laut. Hampir setiap saat sebagian besar kawasan terendam air dengan kedalaman rawa bervariasi antara  2-10 m. (BBKSDA)
Cagar Alam Rawa Danau
Sebagian wilayah berupa rawa dan danau, kecuali di bagian utara terdapat  bukit kecil, yaitu Gunung Jamungkal seluas ±8 ha dengan ketinggian 192 m di atas permukaan laut. Hampir setiap saat sebagian besar kawasan hutan tanahnya terendam air dengan kedalaman rawanya bervariasi dari 2-10 m. (Kompasiana)
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim kawasan ini termasuk tipe B dengan nilai Q ±10,8. Bulan kering terjadi pada Juli-Agustus, sedangkan bulan basah terjadi pada September-Juni dengan temperatur rata-rata 17°C-25°C. Jenis tanah pada bagian barat kawasan ini termasuk regosol dengan bahan induk abu dan tufvulkan masam. Fisiografi berwarna kelabu, pasir, berlumpur pejal, gembur dan peka erosi. Sedangkan pada bagian timur dari kawasan Cagar Alam rawa Danau adalah jenis latosol dengan bahan induk tuf vulkan masam berwarna merah, liat berat, remah, dan gembur.
Cagar Alam Rawa Danau termasuk tipe ekosistem rawa air tawar pegunungan, dengan jenis tumbuhan berkayu yang mendominasi yaitu jajaway (Ficus retusa), gagabusan (Alstonia spatulata), mareme (Glochidion lucididum), rengas (Gluta rengas) dan kisireum (Eugenia spicata), sedangkan tumbuhan bawah yang mendominasi adalah jenis rumput-rumputan (Gramineae sp.)
Cagar Alam Rawa Danau
Jenis-jenis satwa yang ada di dalam kawasan diantaranya bangau tong tong (Leptoptilos javanicus), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), raja udang biru (Halcyon chloris), kuntul putih (Ardeola sp.), elang ular (Spilornis cheela), ular sanca (Phyton reticulatus), kera (Macaca fascicularis), lutung (Trachypitechus auratus), bajing tanah (Lariscus insignis), kalong (Pteropus vampirus), biawak (Varanus salvator) dan kura-kura (Tryonix certilangineus).
Cagar Alam Rawa Danau dapat dijangkau melalui jalur Bandung-Bogor-Rangkasbitung-Cimeong (±321 km), dari Cimeong-Padarincang sejauh 4 km, dari Desa Citasuk ke Kampung Ranca Sumur lokasi dapat ditempuh dengan jalan kaki dan dilanjutkan dengan menggunakan perahu kecil.
Present
Berbagai keunikan dan kekhasan terdapat pada ekosistem Cagar Alam Rawa Danau. Saat ini kawasan tersebut merupakan salah satu ekosistem rawa tropis yang mulai langka di dunia. Rawa Danau juga menyediakan sumber air yang sangat potensial bagi masyarakat disekitarnya. Keunikan lainnya adalah cagar alam ini diapit langsung oleh pantai dan perbukitan sehingga berfungsi sebagai reservoir alami. Setelah menampung air dari 17 sungai kecil, air kemudian dialirkan melalui Sungai Cidano yang bermuara di Pantai Pasauran.
Cagar Alam Rawa Danau
Fungsi Daerah Aliran Sungi Cidano sangat vital dalam penyediaan air bagi warga Serang dan Cilegon serta industri di Cilegon. Pertimbangan perlindungan fungsi hidrologis kawasan hutan serta perlindungan flora dan fauna endemik, senada dengan kepentingan preservasi daerah tangkapan air, perlindungan hutan hujan tropis melatarbelakangi pencagaran kawasan Rawa Danau. Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan penunjang budidaya. Saat ini industri di Kota Cilegon, PDAM Kabupaten Serang dan PDAM Kota Cilegon banyak memanfaatkan air dari daerah ini, sehingga kelestarian kawasan Cagar Alam Rawa Danau sangat penting sebagai penyangga kepentingan kehidupan masyarakat sekitar.
Pesona yang dimiliki Rawa Danau berupa danau yang berada di kaki bukit atau pegunungan. Jika matahari bersinar terang, akan tampak rawa di kejauhan. Hamparan air yang tampak menghijau, di sekitarnya tumbuh beraneka jenis tumbuhan air.
Tetapi pada sore hari atau kala sinar matahari mulai berkurang, yang tampak hanyalah hamparan kabut putih menutupi danau tersebut. Meski tak bisa melihat apa-apa, selain hamparan kabut yang mirip gumpalan kapas, namun kesejukan membuat wisatawan betah berlama-lama di sini.

Panenjoan adalah salah satu tempat beristirahat yang berada di ketinggian. Artinya, danau yang akan dilihat berada jauh di bawah kaki wisatawan. Seolah-olah sedang berdiri di atas sebuah tebing.
Di sekitar tempat peristirahatan sudah disediakan beberapa kursi untuk beristirahat sambil menatap rawa danau yang berkilau-kilau. Warung-warung penyedia makanan juga sudah hadir di sini. Di sebelahnya terdapat sebuah villa.
Villa tersebut sengaja dibangun tinggi, menghadap ke arah Rawa Danau. Sehingga bisa berdiri di teras depan villa sambil melayangkan pandangan ke Rawa Danau. Kicau burung dan gemirisik dedaunan merupakan instrumen yang bisa dinimati setiap saat dari atas villa ini.

Sumber: www.jalanjalanindonesia.com

Perjalanan Sang Ulama Banten


January, 30 2013


Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.
Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.
Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.
Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.
Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.
Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).
Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beliau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu’. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keIslaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/membai’ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.
Guru-gurunya
Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.
Murid-muridnya
Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab.
Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.
Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari Nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah.

Kian Santang

December, 31 2012

GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan maulud
Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi (Nyi Subang Larang). Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.
Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.
Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.
Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama,harus mujasmedidulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang – Berani, Setra – Bersih/ Suci).
setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.
“Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki- laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”
Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.
Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat.Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.
Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.
Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.
Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.
Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.
Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.

Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.

Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.
Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.
Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.
Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.
Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.

Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.***
Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber: http://galuh-purba.com